-->

Thursday, October 04, 2012

Oh please. Just give up, Syifa! (continuation)

Posted by syifa ps at 00:12
Hello, right now I'm seriously going to continue my 'mushy' story hehe. And this is the final part by the way (oh, nobody would read this anyway lol).


Hmm, sampai dimana kita kemarin? Oh sampai aku ditanyain nomer handphone ku sama cowok itu, ya kan? Nah, akhirnya aku kasih deh nomer aku waktu itu. I didn't hesitate at all at that time. Not even a bit. Karena kita yang namanya udah lama nggak ketemu dan nggak ngobrol, we kept text-messaging each other until late. Dia nanyain kabar aku gimana, aku juga tanya kabar dia gimana. Aku bilang ke dia that I missed him so bad I could cry, dia juga bilang hal yang sama.
Karena waktu itu kita udah di tahun akhir SMA, dia tanya ke aku, aku bakal kuliah dimana. Dan ternyata tujuan kuliah kita ada di kota yang sama meskipun universitas tujuan kita berbeda. And you know right that I'm a truly daydreamer. Di saat yang sama kita ngobrol itu, aku mulai ngebayangin semua hal (yang tentunya belum tentu terjadi) kalo nanti kita hidup di kota yang sama. Dan aku bermaksud untuk menagih janji dia ke aku.


Beberapa minggu kemudian, I just found out that he's got a girlfriend there! And more importantly, he forgot about what he said. Masalah dia janji apa, well, it included that girlfriend-thingy. Intinya, janji tetap janji. I'm the type of person that will take seriously other people said. Well, not everything. But, if you said that's a promise, you better never forget about what you said. And yeah, I was so childish so I removed him.
Cuma yang namanya rasa penasaran itu akan selalu ada. Jujur aja, aku belum bisa dan nggak segampang itu ngelupain orang yang buat mikirin dia aja udah menyita lebih separuh umur aku. Ternyata, profil social network dia itu juga udah diabaikan sama dia, dia bikin yang baru. This time, I friended him first. Dia ga sadar kalo ternyata sebelumnya aku remove dia. Kita akhirnya bisa ngobrol biasa lagi, dan waktu itu dia udah nggak sama pacarnya lagi.

Singkatnya, kita udah jadi mahasiswa. Aku sama cowok itu masih sering ngobrol, entah itu sms atau chat. Tapi, keadaan mulai jadi buruk semenjak dia minta aku buat ngenalin temen-temen cewek ke dia. I got jealousy in me. Temen-temen aku waktu itu emang ada beberapa yang punya pacar, ada yang sekedar naksir temennya (atau adik kelasnya), dan mereka tipe orang yang nggak mau informasi pribadinya diumbar sembarangan. Selain itu, aku juga nggak pernah cerita soal cowok ini ke mereka. Alhasil, aku berusaha nge-handle paksaan cowok ini sendirian. Sedih sebenarnya. Aku nunggu dia bertahun-tahun, tapi dia nggak nyadar kalo aku ada. Bagi dia, aku nggak bisa jadi objek afeksinya. Bagi dia aku bukan wanita. Cuma sekedar teman. Parahnya lagi. Teman kecil.

Aku masih ingat, di chat waktu itu dia bilang pengen kenalan sama temen aku. Aku bilang ke dia 'Emangnya kenapa sih, nggak punya pacar sebentar aja ribet amat. Kalo kamu nggak punya baju sehelai pun baru repot, itu wajar.' Terus dia malah bilang 'Kan nggak enak, Syifa. nggak ada yang perhatiin aku'. Dan dia terus menerus mendesak supaya dikenalin ke temen aku. And then I exploded. I told him some harsh things. Yang aku ingat, sih aku bilang ke dia 'Ampun deh. Yaudah sih, cari aja cewek di mall sana'. Yes, it was pretty rude. Dan sepertinya dia merasa tersinggung. Kita nggak teguran mulai dari sana.

Di kampus, aku ketemu sama cowok lain lagi. He's pretty cool, a silent type (as far as I'm concerned), neat and smells good, eventhough he's not so good looking (I won't judge a person by his/her appearance only though). I practically had a crush on him. We barely talked, but sometime our eyes met and of course I'm happy. Aku mulai lupa sama si cowok itu, tapi kelupaan itu nggak berlangsung lama. Karena memang semua tentang dia udah nyaris mendarah daging. Parahnya, nggak lama setelah itu kita baikan. Dan dia ngajak ketemu, sama temen-temen yang lain juga, sih. Aku menyanggupi dan aku yang minta dia buat hubungin temen-temen yang lain. Dia udah bilang oke. Malam itu juga aku cerita ke teh Dedan, yang sekost-an sama aku, (teteh, maaf ya namanya nggak disamarkan hihi) tentang cowok itu. Aku nangis, senyum, ketawa-ketawa, dan aku bilang ke teteh kalo aku mau lupain dia aja. Setidaknya aku mau berusaha. Dan aku bilang kalo di kampus ada anak yang lagi aku lirik, cuma aku masih ragu. Karena aku belum rela ngelepas cowok itu. Teh Dedan bilang,

'Lebih baik kamu ketemu dia dulu, kalo ternyata dia yang sekarang nggak sesuai ekspektasi kamu, atau dia bukan orang yang dulu yang kamu sayang, lebih baik sudahi aja. Manusia itu berubah, Syifa. Kamu nggak ketemu seminggu aja orang yang kamu kenal udah bisa beda banget.'

Well, aku setuju sama teh Dedan. Saat itu juga aku siapin mental baja. Takutnya dia bener-bener bukan orang yang aku kenal dulu. Besoknya sebelum pergi, tiba-tiba aku punya firasat super nggak enak. Dia nggak bakal datang. Hanya saja aku kekeuh pergi ke tempat janjiannya. Di perjalanan, aku makin ngerasa nggak enak. Dan begitu udah deket, aku tanya ke dia acara hari itu jadi apa nggak. Kenapa aku tanya begitu, dan bukannya nanya dia ada dimana sekarang? Karena aku yakin firasatku hari itu nggak salah. Ternyata bener! Dia bilang ke aku, 'Nggak jadi hehe'. Cuma itu. Tanpa kata 'maaf'. Dan kenapa dari semalem dia nggak bilang aja kalo batal? Yang lebih bodoh lagi itu aku. Aku udah punya firasat gitu, kenapa juga aku mau dateng? Mungkin, hanya mungkin, di dalam hati aku masih berharap dia sama seperti dulu. nggak berubah barang setitik pun. Pulangnya aku laporan sama teh Dedan, dan teh Dedan cuma bisa bengong. Sejak saat itu, aku nggak pernah mau tahu lagi soal dia. Dan aku mulai konsentrasi sama I, yang ada di kampus.

Momen habis lebaran itu, emang mau nggak mau kita harus maaf-maafan. Aku berbasa-basi, minta maaf dan segala macem ke dia. Dari situ kita mulai ngobrol lagi. Dan jadi lebih deket dari sebelumnya. Aku mulai berani cerita tentang dia ke beberapa temen yang paling deket (baca:3 orang). Orang yang pertama aku ceritain namanya Syifa Fauzia (seumur-umur baru ini punya temen yang namanya sama). Aku waktu itu cerita sama dia di tukang nasi goreng hahaha. Mana waktu itu aku nangisnya jelek banget lagi *sighs* eh malah dikirain lagi ketawa sama abang yang jualan.Errr...
Syifa yang denger cerita aku waktu itu sempet nangis juga dan akhirnya dia memutuskan waktu itu nginap di kost-an aku. Kita cerita semalam suntuk, dan Syifa juga cerita tentang the person she loves ke aku.
Beberapa hari setelah itu aku memutuskan buat bilang ke cowok itu. Soal perasaan aku, soal semuanya. Aku ceritain ini ke Syifa dan she encouraged me to do so. Akhirnya aku bilang ke cowok itu, dan aku kasih tahu ke dia, kalo dia nggak mesti ngebalas atau ngejawab apapun. Dan kita berdua pun lost contact lagi. Tapi itu nggak berlangsung lama. Dia tetap ngajak aku ngobrol biasa. I found it kind of awkward though -_-
Meskipun begitu, perasaan itu nggak hilang. Tetap ada di sana, dan untuk sekedar menghapus bayangan dia aja aku nggak bisa.

Lumayan lama, meskipun aku bilang sama dia waktu itu 'good-bye' tapi dalam hati aku selalu bilang 'hello-how-are-you-today-?' dan itu menyiksa. Jujur, aku lebih milih manusia bisa mengontrol perasaannya setelah aku tahu hal-hal semacam ini. Dan dalam waktu dekat itu, he's got a new girlfriend . Lebih muda dua tahun dan cantik. Aku udah nggak punya harapan segede dulu, tapi tetap masih ada. Sometime he told me about her and their love life, and yeah, it hurts. Because of that, I decided to go hiatus on every social networks I have. And I put my cellphone as far as I could reach. It was only for a month though, my dear friends kept nagging at me for being so-hard-to-reached (lol I'm really sorry, guys!).
And you know, recently I found something interesting. Both his parents and hers, gave their blessings already. Surprised? Of course I am. But I'm trying to be less affected.

In the end, I gotta move on anyway. He's not for me. I only wish that I could find 'that' person. 'That' person who will make my life brighter than ever, the person who will make me see pretty rainbow even when the dark clouds came.

0 comments:

Post a Comment

 

syifa's melody of life ♫ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review